Selasa, 16 Desember 2025

Terbit : Sen, 14 Juli 2025

Sekilas Sejarah Perkembangan Islam Di Lombok

Oleh : admin Inspirasi
Sekilas Sejarah Perkembangan Islam Di Lombok

Sejak Islam masuk di NTB khususnya di Pulau Lombok eksistensi Umat Islam masih tetap belum tergoyahkan bahkan Pulau Lombok mendapatkan sebutan Pulau Seribu Masjid.

Menurut sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa Islam datang ke Lombok melalui dua arah. Pertama, dari arah Timur, Makassar dengan melewati Pulau Sumbawa terlebih dahulu, Kira-kira pada permulaan abad ke 16.

Sumber lain menegaskan abad ke 17 yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri Gorak yang dibawa oleh Sunan Prapen ini bernuansakan fiqih, hingga dari sinilah lahirnya kelompok Islam waktu lima, Sunan Prapen masuk ke Lombok melalui Labuhan Lombok di Lombok Timur.

Kedua, Islam datang dari arah Barat yaitu wilayah Pengging Jawa Tengah, yang datang hampir bersamaan dengan kelompok pertama sekitar abad ke 16.

Corak dari Islam yang kedua ini adalah Sufisme, lebih kepada bentuk Sinkritasi Hindu Adwaita dan Islam Sufisme, sehingga masyarakat lebih bersikap persuasif ketika meresponnya, bahkan tertarik untuk menganut dan memeluknya.

Kendati memeluk Islam mereka juga menjalankan kebiasaan dan melestarikan adat istiadat yang sepintas jika dicermati lebih mudah berafiliasi ke Hindu. Sehingga disamping pemahaman tentang Islam, pengalaman boda pun masih terus dilestarikan. Ini sekaligus merupakan adalah salah satu hipotesis dari sekian banyak asumsi tentang lahirnya penganut Waktu Telu.

Adapun sumber lain menyebutkan bahwa Islam datang ke Lombok kira-kira permulaan abad ke 16 yang dibawa oleh beberapa tokoh diantaranya: Sunan Prapen [Putra Sunan Giri], Al-Fadal yang diduga orang Arab, Pengeran Sangupati, Gous Abdurrazak seperti yang termuat dalam Babad Lombok. [Satu Agama Banyak Tuhan hal 58-59] oleh Kamarudin Zaelani.

WAKTU TELU

Dr. Erni Budiawanti menjelaskan bahwa penganut Waktu Lima mendefinisikan Waktu Telu sebagai Orang Islam yang melakukan hanya tiga dari lima rukun Islam yang ada [syahadat, shalat, dan puasa].

“Kewajiban shalat yang dikerjakan hanya terbatas pada tiga waktu yaitu shalat subuh, maghrib, dan Isya. Demikian pula dengan perintah wajib puasa pada bulan ramadhan yang hanya dikerjakan sebanyak tiga kali yaitu tiga hari di awal, tiga hari di pertengahan, dan tiga hari di akhir ramadhan,” jelas Budiawanti.

Lebih lanjut Budiawanti menjelaskan waktu telu memegang konsepsi dimana mereka tidak bisa lepas dari proses WETU berasal dari kata Metu yang berarti keluar, dan Telu [tiga].

“Ketiga konsepsi inilah yang melandasi pemahaman mereka terhadap pengakuan kemahakuasaan Tuhan. Konsepsi tersebut berawal dari pengembangan tiga cara reproduksi tersebut, serta suatu keyakinan bahwa manusia tidak bisa lepas dari tiga siklus kehidupan lahir, hidup, dan mati. [Satu Agama Banyak Tuhan hal. 19)] oleh Kamarudin Zaman Zaelani,” paparnya.

Para penulis barat atau yang sepaham dengan mereka dari kalangan pemerhati dari kalangan bangsa kita sendiri banyak yang berusaha keras untuk melepaskan islam “waktu telu” dari islam Waktu Lima sehingga ia berdiri sendiri tidak ada kaitannya dengan Islam dan umat Islam.

Hemat saya [TGH. Sofwan Hakim], Islam Wetu Telu perlu didakwah secara sabar dan kontinyu agar mereka dapat melaksanakan ajaran Islam secara kaffah sebagaimana umat Islam pada umumnya.

PERANAN PARA TUAN GURU DAN DA’I

Untuk itu para tuan guru telah menyadari hal tersebut dan telah merintis usaha berda’wah secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.

Diantara beliau-beliau itu tidak sedikit jasanya dalam  upaya tersebut seperti; Tuan Guru H. Zainuddin Abdul Majid, Tuan Guru Mutawalli, dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Kemudian usaha para Tuan Guru itu dilanjutkan oleh da’i-da’i muda yang ditugaskan untuk berdakwah didaerah-daerah di mana dianggap masih banyak wetu telu terutama di Kecamatan Bayan.

Da’i-da’i muda ditugaskan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia [DDII] Jakarta dan da’i-da’i dari Pondok Nurul Hakim Kediri. Berpuluh-puluh Masjid telah dibangun di Kecamatan Bayan dan sekaligus dibarengi dengan tenaga-tenaga da’i untuk membina mereka dan anaknya seperti di Desa Bayan, Segenter, Gelumpang dan lain lain.

Disisi lain pendidikan dakwah Islamiyah di Daerah Lombok dan NTB umumnya terdapat peningkatan yang cukup kuat. Hal ini dapat terlihat dari semakin banyaknya jumlah madrasah dan Pondok Pesantern. Demikian pula dengan tempat ibadah ummat Islam seperti Masjid, mushollah dan langgar demikian pula dengan majelis ta’lim. Yang terus bertambah baik dikalangan masyarakat maupun PNS di Kantor-kantor.

PERANAN PEMERINTAH, PENDIDIKAN dan DA’WAH

Peranan pemerintah baik di tingkat Kabupaten/kota dan Provinsi dalam meningkatkan peningkat pendidikan dan da’wah tentu tidak dapat diabaikan dalam bentuk bantuan moril maupun material lebih-lebih ketika Tuan Guru Bajang menjabat sebagai Gubernur NTB dimana secara jelas mencantumkan visinya “NTB Beriman, berdaya saing, berbudaya dan Sejahtera.”

Mengingat pariwisata merupakan program unggulan NTB, dan juga sama-sama mengetahui keuntungan pariwisata secara material atau duniawiyyah, namun disisi negatifnya juga harus diantisipasi terutama sekali yabg berkaitan engan akhlak, moral dan aqidah. Untuk itu pariwisata harus diusahakan dengan syar’i.

Untuk itu Dinas Pariwisata hendaknya promosi wisatanya tidak hanya ke negara-negara non Muslim saja tetapi juga ke negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuawait, Negara Teluk yang kaya raya, Pakistan, juga ke Malaysia dan lain-lain.

Agar terus diperkokoh jaringannya terutama dengan organisasi-organisasi Islam sehingga yang datang berwisata ke NTB itu adalab siswa dan para ilmuan seperti yang dilakukan ABIM dengan bekerja sama dengan Dewan Dakwah Indonesia [DDII].

Selain itu, pemuda hendaknya banyak memperkenalkan tidak hanya budaya sasak atau budaya lainnya tetapi juga perlu ada semacam Islamic Information dan ini hendaknya dilakukan oleh lembaga-lembaga Islam.

Diatas telah kita singgung betapa banyaknya masjid-masjid, mushollah dan pesantern di NTB terutama di pulau Lombok sehingga mendapat gelar Pulau Seribu Masjid. Ke depan gelar pulau seribu masjid ini akan diharapkan menjadi daerah seribu hufazz dan haafizah. Pungkasnya.

Sumber: Dinukil dari makalah olehTGH Sofwan Hakim tentang Islam di Lombok pada suatu kesempatan seminar di- Mataram.

TANGAN BERBAGI INDONESIA
Sekretariat: Jl. Lestari Perumahan GSM Blok A15, Kel. Pejarakan Karya, Kec. Ampenan, Kota Mataram, NTB
Luas Area100 m2
Luas Bangunan30 m2
Status LokasiPinjam pakai
Tahun Berdiri2019
  • Selamat Datang di halaman Donasi TANGAN BERBAGI INDONESIA